Your Religion Should be PRIVATE Not HIDDEN

DISCLAIMER: TULISAN INI DIBUAT 100% MENURUT OPINI PRIBADI PENULIS.

Photo: Tim mossholder on Unsplash

Ditengah-tengah kegelapan yang sedang menutupi bumi dimana saya selalu berharap kegelapan itu hanya akan berlangsung sementara. Dan Ditengah-tengah dunia yang semakin “gila” dengan segala kejutan yang diberikan oleh manusia-manusia yang menghuni bumi. Ada salah satu topik yang sebenarnya sudah lama ingin penulis tuangkan dalam tulisan mengenai “Keyakinan”.

Beberapa tahun belakangan ini ada suatu pergeseran perubahan sikap yang awalnya mengucapkan salam hari raya agama lain merupakan suatu hal yang lumrah dilakukan untuk menunjukkan sikap toleransi kita terhadap manusia lainnya, perlahan-lahan pudar bahkan terancam PUNAH.

Saya bertanya kenapa baru sekarang di katakan bahwa hal itu “tabu” untuk dilakatakan? kenapa? dan kenapa?, saya bertanya pada dirisendiri dan mencoba memahaminya, saya melihat sekeliling saya sudah banyak perubahan terjadi, teman-teman SMA sudah tidak berani mengucapkan “selamat hari raya lagi kepada saya” dengan mengatakan bahwa itu dilarang.

Tapi saya tidak bisa menyalahkan mereka, karena pendapat orang akan sesuatu bisa berbeda-beda, dan tidak baik adanya jika saya memaksakan kehendak saya sendiri atau bersikap egois bahwa orang-orang harus berpikiran sama dengan saya. Jika “Semua orang berpikiran sama seharusnya masalah tidak akan ada”, justru karena kita berbeda-beda kemungkinan terjadinya “pergesekan” satu sama lain persentasenya tinggi.

Sehingga dibutuhkan pemahaman dan saling pengertian satu sama lain agar dapat hidup dengan harmonis.

Kata “Toleransi” sering digunakan untuk menciptakan keharmonisan tersebut, tapi kembali lagi, Apakah kata “Toleransi” itu dipahami betul maknanya? dan apakah betul itu menciptakan keharmonisan?. Pengertian “Toleransi” menurut Inspektorat Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan adalah suatu sikap saling menghormati dan menghargai antar kelompok atau antar individu dalam masyarakat atau dalam lingkup lainnya.

Sehingga kalau dari pandangan saya toleransi berarti menghargai atau menghormati kelompok atau individu yang berbeda yang berada dilingkungan kita. Tetapi banyak praktek toleransi yang saya lihat adalah sikap “menghormati” tetapi menganggap bahwa hal itu “tidak terlihat”, seakan-akan ada sekat, jadi ibarat mau menghormati tapi setengah-setengah gitu, jadi jujur terkadang saya sendiri pun bingung niat gak nih ngucapinnya hehehe.

Pada saat saya menulis ini saya juga sembari menonton youtubenya mba Najwa Shihab, pada segmen Shihab dan Shibah dengan pembahasan “Hukum mengucapakan selamat natal”, dalam caption video youtube mba nana, tertulis rangkuman inti dari pembahasan tersebut yaitu “Abi Quraish menjelaskan, bahwa pada dasarnya kita semua bersaudara. Jika tidak saudara seagama, maka kita bersaudara dalam konteks kemanusiaan. Atas dasar itulah, sekadar mengucapkan selamat dibolehkan.”

Jadi sekedar mengucapkan bukan berarti anda mengakui apa yang saya percayai melainkan hanya bentuk ucapan selamat antar sesama manusia, itulah TOLERANSI yang menciptakan KEHARMONISAN. Mengucapkan bukan berarti anda percaya, karena yang terpenting adalah IMAN yang berada dalam diri anda.

Ada juga suatu “fenomena” yang menurut saya agak tidak lumrah, ketika agama lain ingin beribadah tapi dilarang dan bahkan bisa saya katakan seperti dianggap melakukan suatu tindakan kriminal. Padahal kita berada pada negara yang mengakui adanya Hak Asasi Manusia. Dan merupakan hak setiap orang untuk memilih keyakinan yang ingin dia anut. Banyak sekali di sosial media, jika salah satu publik figur yang memilih untuk berpindah keyakinan, lihatlah berapa banyak komentar yang ditulis oleh netizen yang maha benar di kolom komentarnya? atau bagaimana tiap kali ada publik figur baru pasti komentar-komentar pertama netizen adalah “agamanya apa sih kak?”. Ya, itu hal yang lumrah ditanyakan di Indonesia. Yang akhirnya orang-orang akan cenderung untuk menyembunyikan keyakinan yang dia yakini, supaya tidak dipertanyakan netizen yang akan berujung konflik di kolom komentar.

MIRIS melihatnya. Keyakinan bukanlah sesuatu yang harus kita sembunyikan, karena sebelum kita memilih keyakinan tersebut sebagai pedoman hidup kita, bukankah kita melalui proses terlebih dahulu? proses pengenalan, pemahaman dan pemantapan sehingga pada akhirnya kita memutuskan bahwa kita yakin dengan keyakinan ini. Lantas kenapa harus disembunyikan?.

Tetapi bukan berarti juga harus diumbar di sosial media, agar khalayak luas mengetahui seberapa “agamisnya” anda, tentu saja TIDAK PERLU!. Cukup kamu dan Tuhan yang tau seberapa besar kamu Mencintai dan Setia padanya.

“Agama itu privasi tidak perlu sosialiasi, tetapi bukan berarti harus disembunyikan”.

Disembunyikan karena kamu takut tidak bisa naik pangkat jika atasan tau kalau kamu menganut agama tertentu, atau disembunyikan agar bisa berbaur dengan teman-teman mu, atau disembunyikan agar orang-orang kantor dapat menerima kamu.

Atau malah sebaliknya di sosialisasikan ke khalak luas agar satu isi bumi ini tau seberapa taat kamu pada agama mu?.

Akhir kata, hanya kalian sendiri yang bisa menentukan pilihan-pilihan yang ada, yang penting bersikaplah BIJAK sama apa yang kalian dengar dan apa yang kalian baca, karena satu hal yang perlu kalian renungkan adalah “KITAB apapun yang kalian punya isinya tidak dapat dirubah oleh siapapun hanya TUHAN yang dapat merubahnya”. Perdalamlah dengan baik keyakinan yang sudah kamu pilih, diluar sana banyak yang orang yang sok-sok mengetahui agama tetapi nyatanya tidak, disitulah kalian harus lebih BIJAK, sebelum menyerap ilmu tersebut bacalah kitab anda kembali apakah benar apa yang dikatakan pemuka agama tersebut.

--

--

Penulis yang sedang belajar menulis. Pendengar yang masih belajar mendengar. Mencoba mengeluarkan benang-benang kusut dan tua dalam tulisan.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
Written.Writerr

Penulis yang sedang belajar menulis. Pendengar yang masih belajar mendengar. Mencoba mengeluarkan benang-benang kusut dan tua dalam tulisan.